Penggunaan Kartu Miskin Tidak Tepat Sasaran

30 August 2009

Denpasar (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Bali memutuskan untuk tidak lagi memberlakukan penggunaan kartu miskin terkait pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat yang akan dilaksanakan tahun 2010 mendatang.

"Penggunaan kartu miskin penerapannya sering tidak tepat sasaran, selama ini kartu miskin tidak saja digunakan oleh masyarakat yang betul-betul miskin tetapi juga dimanfaatkan oleh masyarakat golongan menengah ke atas," kata Gubernur Bali, Made Mangku Pastika di Denpasar, Minggu.

Gubernur Pastika mengemukakan bahwa nantinya, lewat program kesehatan gratis, seluruh masyarakat Bali tanpa terkecuali akan mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis.

Gubernur mengatakan dalam mendapatkan pelayanan gratis tersebut, masyarakat hanya cukup menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) saja, dengan pelayanan yang akan diberikan yakni pelayanan kelas tiga.

"Asalkan mau mendapatkan pelayanan pada kelas tiga masyarakat golongan menengah ke atas pun bisa memanfaatkan pelayanan gratis ini," ucap Gubernur Pastika.

Dikatakan dalam pelayanannya gratis tersebut nanti akan disiapkan rumah sakit yang dijadikan rujukan, dan masyarakat cukup hanya menunjukkan KTP Bali saja.

"Tidak ada alasan bagi rumah sakit rujukan untuk menolak atau menelantarkan pasien yang sudah dapat menunjukkan identitas berupa KTP Bali," tambahnya.

Untuk mendukung program kesehatan gratis tersebut, Gubernur Pastika menyatakan Pemprov Bali telah menyiapkan alokasi dana mencapai Rp 100 milyar.

"Mengenai pendanaan program pelayanan kesehatan gratis tersebut nantinya juga akan didukung oleh pemerintah Kabupaten/Kota di Bali," ujar Gubernur Pastika.(*)

Sumber: ANTARA
Baca Selengkapnya...

Meminimalkan Bau Mulut pada Orang Berpuasa

29 August 2009

Bau mulut atau halitosis yang ditimbul selama seseorang menjalankan puasa bukan akibat kelainan suatu organ. Secara normal, jika mulut kering karena air liur yang kurang atau akibat kurang melakukan aktivitas mengunyah, akan menimbulkan bau mulut tidak sedap.

Menurut dr Ari Fahrial Syam dari Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), bau mulut pada orang berpuasa dapat diminimalkan dengan tetap memperhatikan kebersihan mulut dan mengkonsumsi makanan, minuman dan buah-buahan yang baik untuk kebersihan mulut.

”Bila ada masalah dengan kesehatan mulut segera konsultasikan dengan dokter gigi sehingga keadaan bau mulut tidak berlanjut,” kata dr Ari Fahrial di Jakarta, kemarin.

Ari mengungkapkan, bau mulut akibat kelainan sesuatu organ dapat terjadi akibat kelainan pada rongga mulut, dari telinga, hidung, tenggorokan, saluran pernafasan atau saluran pencernaan. “Sebagian besar sebenarnya penyebab bau mulut bersumber akibat kelainan pada rongga mulut,” ungkap dia.

Keadaan rongga mulut yang berpotensi untuk menimbulkan bau mulut itu sendiri, karena adanya karies atau gigi berlubang atau adanya sisa akar gigi, karang gigi, peradangan pada gusi , atau penggunaan gigi palsu yang tidak benar.

Kenapa kelainan pada gigi menimbulkan bau yang tidak sedap karena pada gigi berlubang terjadi penumpukan sisa makanan dalam lubang gigi tersebut, sehingga terjadi proses pembusukan sisa makanan oleh bakteri. “Itulah yang memicu timbulnya bau busuk,” kata Drg Seri Fahrial, staf sebuah puskesmas di Jakarta Pusat.

Sisa akar gigi yang masih tertinggal di mulut juga akan menyebabkan bau mulut. Pada akar gigi, ujar Seri Fahrial, sisa makanan juga dapat tertinggal akibat adanya permukaan akar gigi yang kasar, sehingga sisa makanan tertinggal tersebut sulit dibersihkan.

Pada gigi yang mempunyai karang gigi di permukaannya akan menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar sehingga menyebabkan sisa makanan mudah menempel dan sulit dihilangkan. “Semakin lama akan menyebabkan penebalan lapisan karang gigi, yang akhirnya menyebabkan bau tidak sedap,” papar Seri.

Selain itu, adanya peradangan pada gusi yang terjadi karena adanya karang gigi yang menempel di gigi dan gusi, maka gusi yang meradang tersebut akan memunculkan bau yang tidak sedap.

Penggunaan gigi palsu secara tidak benar, yang seharusnya mendapatkan perawatan seperti gigi asli, juga menjadi salah satu pemicu timbulnya bau mulut.

Mengingat pentingnya kesehatan gigi dan juga penyebab terbanyak bau mulut karena masalah gigi, maka masalah seputar gigi dan rongga mulut harus ditanggulangi dengan baik.

Jika selama berpuasa timbul bau mulut akibat kelainan gigi, biasanya keadaan ini akan lebih dirasakan. Maka itu, selama berpuasa, bila merasakan bau mulut yang berlebihan harus selalu berpikir kemungkinan adanya kelainan pada rongga mulut. (izn)

Sumber: PdPersi
Baca Selengkapnya...

Depkes Kirimkan Tim Atasi KLB Diare

Untuk membantu penanganan kejadian luar biasa (KLB) Diare di Kec. Cisarua, Caringin dan Cigudeg, Kab. Bogor, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan mengirimkan tim ( Sub Dit Diare, Sub Dit Surveilans dan Penyehatan Lingkungan) ke lokasi terjadinya KLB dengan membawa serta bantuan logistik dan obat-obatan yang dibutuhkan. Tim akan berangkat hari Sabtu, tanggal 29 Agustus 2009.

Sampai dengan tanggal 27 Agustus 2009, berdasarkan pemantauan yang dilakukan Sub Direktorat Surveilans Epidemiologi Ditjen P2PL Depkes terjadi kejadian luar biasa (KLB) Diare di Kec. Cisarua (154 orang), Kec. Caringin (41 orang) dan Kec. Cigudeg (147 orang) dengan jumlah kasus 342 orang. Para penderita telah memperoleh pelayanan pengobatan masing-masing rawat inap di RS. M Gunawan Parto Widigdo Cisarua, rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas Cisarua serta rawat jalan di Puskesmas Cibulan, kata Drg. Tri Wahyu Harini, MM, Mkes, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bogor.
Menurut Tri Wahyu, untuk mempercepat pengobatan para penderita Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor juga mendirikan Posko Penanggulangan Diare di Puskesmas Cisarua, droping obat-obatan dan logistik, pelacakan penderita baru, kaporisasi sumber air bersih, koordinasi dengan RS. M Gunawan Parto Widigdo Cisarua, penyuluhan tentang perilaku hidup bersih (PHBS) mengenai pencegahan dan penanganan penyakit diare serta monitoring perkembangan kasus.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Kembar Siam Nabila dan Nayla Kembali Dirawat di Rumah

Bayi kembar siam Nabila dan Nayla yang lahir di RSCM Jakarta tanggal 3 Juli 2009 pukul 08.45 WIB, hari ini (21/08/09) kembali ke rumah untuk menjalani kehidupan bersama kedua orang tuanya sebagaimana bayi sehat lainnya sambil menunggu untuk dilakukan tindakan operasi pemisahan. Demikian kata dr. Julianto Witjaksono, Ketua Tim Medis RSCM Jakarta bersama Anggota Tim Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UI-RSCM dalam jumpa pers tanggal 21 Agustus 2009 di Jakarta.

Bayi kembar siam dempet perut lahir dari pasangan Imam Khudori dan Ratri Ningtiyaswinarni, tinggal di Jl. MT. Almansuriyah RT 002/RW 10 No. 10 Kelurahan Bojong Kulur, kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
dr. Mulyadi yang merawat Nabila dan Nayla, mengatakan bahwa kedua bayi tersebut sehat dan dapat kembali ke rumah karena tidak memerlukan operasi secepatnya. Operasi dapat dilakukan pada usia 1-2 tahun, kecuali ada kelainan atau gangguan organ yang perlu tindakan operatif selama masa perawatan di rumah. Selama ini bayi kembar siam dirawat di Ruang Perinatalogi RSCM. Operasi pemisahan nantinya merupakan operasi terencana sehingga dapat dilakukan persiapan dengan matang yang melibatkan berbagai dokter spesialis.

Menurut dr. Julianto, kedua bayi kembar siam tidak dirawat di RSCM untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial yaitu infeksi yang dapat terjadi selama dirawat di RS yang justru dapat membahayakan kedua bayi tersebut. Sehingga lebih baik dirawat di rumah bersama kedua orang tuanya sebagimana bayi sehat lainnya.

Berbagai pemeriksaan dan perawatan telah dilakukan RSCM Jakarta yaitu : perawatan tumbuh kembang anak, pemeriksaan jantung dan imunisasi sesuai umurnya. Imunisasi yang diberikan meliputi: BCG untuk mencegah TB, Hepatitis B untuk mencegah penyakit Hepatitis B dan imunisasi polio untuk mencegah penyakit polio.

Berat badan anak juga sudah naik masing-masing 1 kilogram selama satu bulan terakhir ini. RSCM juga telah melakukan kunjungan rumah dan telah berkoordinasi dengan Puskesmas dan rumah sakit terdekat dengan maksud agar apabila terjadi keadaan darurat dapat segera mendapatkan pertolongan dan perawatan yang memadai sebelum dilayani RSCM.

Kedua bayi kembar siam tersebut dibiayai dengan menggunakan Jamkesda Kabupaten Bogor. Sehingga diharapkan Pemerintah Kabupaten Bogor dapat ikut membantu memantau dan membantu membiayai sampai tindakan operasi pemisahan dilakukan, ujar dr. Julianto.

Sementara kedua orang tua bayi kembar sangat bergembira karena akan segera pulang membawa kedua buah hatinya sambil menunggu dilakukannya operasi pemisahan. Keduanya akan merawat kedua bayi tersebut sampai operasi pemisahan dilakukan.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Rakyat Sehat Kunci Kemajuan Bangsa

26 August 2009

Pelayanan kesehatan selama ini selalu menjadi momok bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin. Keluhan ini sering muncul di berbagai media, terutama menyangkut akses yang tidak mudah, biaya yang mahal, pelayanan yang buruk, dll. Padahal pelayanan yang baik dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Bahkan dalam sebuah artikel yang pernah dimuat di Media Indonesia (20/10/2004) menganalisis bahwa keuntungan ekonomis bisa sampai 600 persen dari peningkatan pelayanan kesehatan. Keuntungan ekonomis ini diukur dengan peningkatan produktivitas penduduk, berkurangnya hari sakit, dan tercegahnya kematian dini.

Kebijakan pemerintah melalui Departemen Kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan harus kita baca dalam kerangka investasi jangka panjang. Sebagaimana diketahui Departemen Kesehatan telah menetapkan visi “Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat dan misi “Membuat Rakyat Sehat”. Untuk mencapai itu dilaksanakan dengan empat strategi utama yaitu: menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, meningkatkan system surveilans, monitoring dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayaan kesehatan.

Masih banyak penjabaran mengenai visi dan misi ini. Yang menjadi titik tekan dalam tulisan singkat ini adalah, bahwa kemajuan bangsa dapat dimulai dari tingkat kesehatan masyarakat. Semakin sehat masyarakat, maka semakin mudah untuk mencapai kemajuan bangsa. Pepatah mengatakan di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Implikasi kesehatan dapat menyebar kemana-mana, mulai dari mentalitas yang sehat, badan yang sehat, sehingga produktivitas masyarakat menjadi meningkat.

Marilah jaga kesehatan kita sehingga kita menjadi masyarakat sehat yang mandiri. Kita juga harus selalu kontrol agar kebijakan pemerintah terhadap peningkatan pelayanan kesehatan tetap pro rakyat miskin. Yesss!!!
Baca Selengkapnya...

Tim Medis RS Persahabatan Berhasil Operasi Hernia Diafragmatika

Tim medis Rumah Sakit Umum Persahabatan yang dipimpin dr. Julli N Kasie Sp.A berhasil melakukan operasi Hernia Diafragmatika tipe Morgagni’s terhadap Lulu Sekar Rahayu (4 bulan) anak pasangan suami istri Ny. Yanti (28 th) dan Tn. Juwatin (28 th) pada tanggal 13 Agustus di Jakarta.

Hal itu disampaikan dr. Clemen Manyahori Sp.Paru, Direktur Pelayanan Medik Rumah Sakit Umum Persahabatan pada jumpa pers tanggal 21 Agustus 2009 di RS Persahabatan.
Menurut dr. Clemen, dalam menjalankan tugasnya dr. Julli N Kasie, Sp.A, dibantu dr. Agung Wibawanto, Sp.BKTV, dr. M. Arman Sp. BKTV, dr. Jalil, Sp.An, dr. Renis Sp.Rad dan dr. Emma Nurhema Sp.A,.

Kelainan kongenital Hernia Diafragmatika Morgagni’s adalah kelainan bawaan pada organ diafragma, yaitu adanya lubang pada diafragma yang mengakibatkan isi rongga perut seperti lambung, usus dan hati masuk (terhisap) ke dalam rongga dada sebelah kiri sepanjang 6 cm.

Kasus ini pertama kali terjadi di RS Persahabatan dan jarang terjadi di Indonesia. Angka kesakitannya 1 per 100.000 kelahiran dengan total kasus berkisar (3 - 4 %), ungkap dr. Agung.

Ditambahkan, tim dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan operasi meskipun berat badan bayi dibawah normal akibat dari asupan makanan yang rendah karena lambung tidak dapat menampung makanan dalam jumlah sewajarnya. Jika operasi tidak segera dilakukan dikhawatirkan akan semakin memperburuk kondisi dari si bayi, tegas dr. Agung.

Ketika lahir pada 29 Maret 2009, Lulu ditolong bidan berada dalam kondisi normal dengan berat badan 3 kg dan panjang badan 50 cm. Pada 24 Juli 2009 pukul 12.30, ia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kurang baik, disertai batuk berulang, sesak napas, napas cepat, wajah membiru dan status gizi buruk (BB 3,8 kg/58 cm), ungkap Ketua tim medis RS Persahabatan.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan gambaran infeksi pada kedua paru-paru dan didapati adanya gambaran usus dan isi perut yang berada di dalam rongga dada. Hasil laboratorium darah menunjukkan adanya gambaran infeksi serius sehingga didiagnosis sebagai gangguan saluran pernapasan yang berat yaitu pneumonia, adanya hernia diafragmatika dan kegagalan pertumbuhan. Selama 19 hari sesudah kedatangan ke rumah sakit, dilakukan upaya penanganan keadaan umum pasien yang kemudian dilanjutkan dengan operasi untuk menurunkan isi rongga perut ke kembali ke tempat yang seharusnya, kata dr. Julli.

Pasca operasi dilakukan perawatan intensif terhadap bayi Lulu, diantaranya yaitu melakukan pencegahan infeksi, memberikan terapi sesuai program, memberikan PASI dan ASI, dan mengganti balutan luka operasi sesuai protab yang berlaku.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes. go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Kepala Badan PPSDM Kesehatan Depkes Wisuda 37 Bidan

Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDM) Depkes dr. Bambang Giatno, MPH mengatakan salah satu arah pembangunan kesehatan adalah meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, dengan sasaran: 1.Menurunnya angka kematian bayi, 2.Menurunnya angka kematian ibu, 3.Menurunnya angka prevalensi gizi kurang pada anak Balita serta 4.Meningkatnya umur harapan hidup. Untuk meningkatkan akses tersebut, tenaga kesehatan khususnya bidan merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan.

Hal tersebut disampaikan saat mewisuda 37 bidan di aula Badan PPSDM Kesehatan Jakarta, Jum’at 21 Agustus 2009. Wisuda ini merupakan tindak lanjut kemitraan Provinsi Kalimantan Barat dengan Poltekkes Depkes Jakarta III yang dipercaya untuk mendidik 40 orang putra daerah Kabupaten Ketapang, dimana 37 orang diantaranya dinyatakan lulus. Pada acara wisuda ini terdapat 3 orang yang menjadi lulusan terbaik yaitu; 1.Elly Oktaviani, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.50, 2.Sannoriyanti Ola, IPK 3.41 dan 3.Windya Astuti, IPK 3.29.
Dalam sambutannya Ka. Badan PPSDM juga mengucapkan selamat kepada para wisudawati atas keberhasilan mereka dalam menyelesaikan pendidikan dan juga kepada orangtua/keluarga yang telah mendukung mereka.

Pada kesempatan itu diserahkan juga SK Menteri Kesehatan tentang pengangkatan bidan sebagai PTT untuk ditempatkan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Dengan demikian, para wisudawati yang baru dilantik dapat langsung dibuatkan SK Bidan PTT dan ditempatkan di lokasi yang memerlukan serta bisa mulai bekerja sejak tanggal 1 September 2009. Para wisudawati tersebut diharapkan dapat didayagunakan oleh Pemkab Ketapang, sesuai dengan tugas dan kewenangannya sebagai tenaga bidan.

Hadir pada acara ini Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (Pusdiknakes) Depkes, dr. Setiawan Soeparan, MPH, Kepala Biro Kepegawaian Depkes, dr. S.R. Mustikowati, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Subuh, Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, Drs. H. Bachtiar, serta orangtua/keluarga dari para wisudawati.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail: puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes. go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Menkes Terima Bintang Penghargaan Legiun Veteran Republik Indonesia

Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menerima bintang penghargaan dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI yang diberikan oleh Ketua Umum DPP LVRI Letjen TNI (Purn.) Rais Abin pada Senin, 24 Agustus 2009 bertempat di kediaman Menkes, Jakarta.

Bintang penghargaan ini diberikan karena Menkes berjasa secara luar biasa untuk perkembangan dan kemajuan LVRI, dalam hal ini adalah kegigihan Menkes dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa Indonesia di forum internasional yang sesuai dengan dharma LVRI. Bintang penghargaan tersebut diberikan berdasarkan Surat Keputusan LVRI No. Skep-19/MBLV/IX/04/2009 tentang Penetapan Penganugerahan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia.
Siti Fadilah mengatakan bahwa ia merasa sangat tersanjung karena diberikan penghargaan oleh LVRI karena dihargai sebagai seorang pejuang walaupun ia bukan berasal dari kalangan militer. Siti memohon doa mudah-mudahan Allah SWT masih memperkenankan ia terus berjuang demi negara ini karena masih banyak tugas yang belum selesai dengan tuntas, contohnya mengenai NAMRU.

Rais Abin mengatakan, Menkes juga dinilai berhasil meningkatkan efisiensi jaminan kesehatan bagi masyarakat termasuk para veteran, serta berani dalam menentang hegemoni negara maju di WHO dan juga NAMRU.

Lebih lanjut Rais Abin juga mengharapkan agar Menkes menindaklanjuti SK Menkes No. 812 tahun 2007 tentang Kebijakan Perawatan Paliatif dengan secepatnya mengeluarkan petunjuk pelaksanaan (juklak) agar para pelaksana di lapangan (hospice) dapat lebih efektif dalam menjalankan tugasnya.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail: puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes. go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Ramadhan Menyehatkan Jasmani dan Rohani

24 August 2009

Oleh: A. Mustofa Bisri

Sebagai hamba Allah SWT yang telah berikrar, sebenarnya apa pun perintah-Nya, kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya-tanya mengapa, untuk apa?. Hamba yang baik justru senantiasa ber-husnuzhzhan, berbaik sangka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan atau melarang sesuatu, pastilah untuk kepentingan kita.

Karena Allah SWT Maha Kaya, tidak memiliki kepentingan apa pun. Ia mulia bukan karena dimuliakan; agung bukan karena diagungkan; berwibawa bukan karena ditunduki. Sejak semula Ia sudah Maha Mulia, sudah Maha Agung, sudah Maha Kaya, sudah Maha Berwibawa. Kalau kemudian Ia menjelaskan pentingnya melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, semata-mata karena Ia tahu watak kita yang suka mempertanyakan, yang selalu menonjolkan kepentingan sendiri.

Maka, sebelum kita mempertanyakan mengapa kita diperintahkan berpuasa, misalnya, Allah SWT telah berfirman:

ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّØ°ِينَ آمَÙ†ُوا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّØ°ِينَ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ

(Q. 2. Al-Baqarah: 183)

"Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."

Jadi, puasa yang diwajibkan sejak dulu kepada kaum sebelum kita, bertujuan utama: agar kita manusia ini bertakwa. Takwa adalah kondisi puncak hamba Allah. Hamba mukmin di dunia ini, dalam proses menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena semua kebaikan hamba di dunia dan kebahagiaannya di akhirat, kuncinya adalah ketakwaan kepada-Nya. Mulai dari pujian Allah SWT, dukungan dan pertolongan-Nya, penjagaan-Nya, pengampunan-Nya, cinta-Nya, limpahan rejeki-Nya, pematutan amal dan penerimaan-Nya terhadapnya; hingga kebahagiaan abadi di sorga, ketakwaanlah kuncinya. (Baca misalnya, Q.3: 76, 120, 133, 186; Q.5:27; Q. 16: 128; Q. 19: 72; Q. 39: 61; Q. 65: 2-3; Q. 33: 70-71; Q. 49: 13).

Itu garis besarnya. Apabila kebahagiaan yang dicari manusia, itulah kuncinya. Kunci dari Sang Pencipta manusia dan kebahagiaan itu sendiri. Seringkali, manusia merasa mengerti dan tahu jalan menuju kebahagiaan. Mengabaikan tuntunan Tuhannya. Ternyata tersesat. Akhirnya, kebahagiaan yang dicari, kesengsaraan yang didapat. Di zaman modern ini misalnya, banyak orang menganggap kebahagiaan bisa didapat dari materi dan orang pun berlomba-lomba mengejar materi. Seringkali, sampai “kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki”. Ujung-ujungnya, karena materi ternyata tidak kunjung memberi kebahagiaan, mereka pun lari kepada yang lebih mudarat lagi: mengonsumsi obat-obatan. Narkoba.

Untunglah, Allah menyediakan satu bulan, bulan suci, dimana kita diberi kesempatan untuk melakukan muhasabah yang lebih intens. Kita diberi anugerah luar biasa yang namanya p u a s a. Di bulan Ramadan di mana kita berpuasa, ritme dan gaya hidup kita berubah. Jadwal makan pun berubah dengan satu kelebihan: kita memenuhinya dengan teratur. Maka, banyak kalangan ahli yang kemudian mengaitkan puasa dengan kesehatan, merujuk sabda Nabi kita, “Shuumuu tashihhuu”, (Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat).

Dengan berpuasa, tidak hanya makan-minum kita menjadi teratur; malah para ahli mengatakan bahwa puasa dapat membersihkan dari tubuh kita, unsur-unsur buruk yang membuat kita sakit.

Jadi, puasa bulan Ramadan, bukan saja dianugerahkan Allah bagi kepentingan ruhaniah, tapi juga jasmaniah kita. Atau dengan kata lain, Allah menganugerahkan kepada kita puasa sebagai sarana menyempurnakan diri. Jasmaniah dan ruhaniah. Kalau ungkapan “Al-‘aqlus saliim fil jismis saliim” menyiratkan pentingnya menjaga kesehatan jasmani agar akal menjadi sehat, maka puasa justru memberi peluang kepada kita untuk sekaligus meraih keduanya.

Dengan puasa, hamba Allah digembleng untuk menjadi manusia yang benar-benar sehat luar dalam yang selalu mengingat Sang Penciptanya. Bukan manusia penyakitan yang gampang lupa kepada Tuhannya. Orang yang lupa Tuhannya, seperti difirmankanNya sendiri dalam kitab sucinya al-Quran, dibuat lupa kepada dirinya sendiri.(Q. 59: 19).

Mari kita sikapi bulan Ramadan dengan segala suasana khusyuknya ini dengan sebaik-baiknya. Berpuasa sesuai aturan dan dengan merenungkan hikmah-hikmahnya. Kita penuhi saat-saatnya dengan meningkatkan amal ibadah yang tidak hanya bersifat ritual mahdhah. Dan dalam hal ini, perlu kita waspadai jebakan si serakah industri, termasuk dan utamanya industri pertelevisian, yang lagi-lagi memanfaatkan momentum bulan suci untuk mengeruk keuntungan materi dan membedaki tujuan komersialnya dengan pupur religi. Selamat Beribadah!

Sumber: GusMusDotNet
Baca Selengkapnya...

Menkes Resmikan Bakti Sosial Operasi Hernia, Bibir Sumbing dan Katarak

“Saya atas nama pemerintah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepedulian RCTI dalam membantu program pemerintah. Saat ini pemerintah mempunyai program Jamkesmas yaitu pelayanan kesehatan gratis untuk masyarakat miskin. Seharusnya semua orang miskin sudah tertampung dalam program ini, tetapi kenyataannya masih banyak warga yang membutuhkan operasi bibir sumbing, hernia dan katarak belum tertampung program Jamkesmas”.

“Saya tidak tahu bagaimana pimpinan daerah dalam menentukan orang miskin yang seharusnya memperoleh Jamkesmas, tetapi tidak mendapatkanya”, ujar Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) ketika meresmikan program Sosial Kemasyarakatan Jalinan Kasih RCTI di halaman RCTI Kebon Jeruk, Jakarta tanggal 19 Agustus 2009.
Menkes menyatakan terkejut mendengar laporan bahwa selama 8 kali Program Jalinan Kasih RCTI dilaksanakan telah melakukan operasi sebanyak 1.860 orang dengan bermacam-macam kelainan. Barangkali diantara pasien yang memerlukan operasi ini juga peserta Jamkesmas. “ Mereka ini tergolong miskin tidak, tetapi kaya juga tidak “ ujar Menkes.

Menkes berharap selain RCTI, perusahaan swasta lainnya juga mempunyai program serupa untuk menolong masyarakat kita yang kurang beruntung.

Sementara itu Hary Tanoesoedibjo, Presiden & CEO Global Mediacom sekaligus Dewan Pembina Jalinan Kasih RCTI mengatakan, program Jalinan Kasih ini sudah delapan kali diadakan. Pada bakti sosial ke-8 ini dilakukan operasi sebanyak 174 pasien terdiri dari 54 pasien hernia, 57 pasien katarak dan 55 pasien bibir sumbing. Mereka berasal tidak saja dari Jabodetabek, tetapi juga Tegal, Purworejo bahkan dari Flores. Pasien bibir sumbing dan hernia adalah pasien anak-anak berusia minimal 3 bulan untuk bibir sumbing dan maksimal 12 tahun bagi penderita hernia. Sementara untuk operasi katarak ditujukan bagi pasien usia dewasa.

Di usianya yang menginjak dua dasawarsa, RCTI melalui Jalinan Kasih terus meningkatkan program kemasyarakatan bidang kesehatan. Dalam bakti sosial ini Jalinan Kasih RCTI bekerja sama dengan RS Mata AINI dan RS Royal Progress Sunter, ujar Hary.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Menkes Terima Penghargaan Prada Prameswari

Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menerima penghargaan sebagai Prada Prameswari dalam acara penganugerahan Prada Prameswari Indonesia di Hotel Four Seasons Jakarta, Jum’at (14/8/2009).

Penganugerahan Prada Prameswari ini diselenggarakan Mustika Ratu Group sebagai wujud kepedulian Mustika Ratu selaku perusahaan jamu dan kosmetika nasional yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi budaya bangsa Indonesia. Prada Prameswari sendiri bisa diartikan sebagai “Permaisuri Emas”, namun yang dimaksudkan disini bukan permaisuri sebagai istri raja. Prada Prameswari dicitrakan sebagai sosok perempuan Indonesia yang cantik, anggun, bijaksana, cerdas, dicintai serta dikagumi keluarga maupun masyarakat.

Menkes mendapatkan penghargaan atas dedikasi, kerja keras dan keberaniannya dalam bekerja sebagai pribadi, ibu rumah tangga dan juga pejabat negara. Prestasi Siti yang banyak dikagumi terutama dalam kiprahnya sebagai Menteri Kesehatan yang banyak menghasilkan program-program kesehatan yang pro rakyat, keberaniannya dalam memerintahkan penutupan NAMRU di Indonesia serta menggugat WHO dalam virus sharing Flu Burung.

Dalam sambutannya Siti Fadilah mengucapkan syukur Alhamdulillah dan terima kasih karena dipilih oleh masyarakat sebagai salah satu perempuan yang dianggap layak disebut Prada Prameswari. Siti mengaku merasa kaget bisa terpilih, dan ia berharap semoga penghargaan ini bisa menjadi cambuk baginya agar bisa menjadi perempuan yang mandiri, inovatif dan produktif untuk membangun bangsa masa di masa depan.

Berdasarkan polling yang dilakukan melalui majalah Femina dan tabloid Nyata selama Januari – Maret 2009, terpilih 8 orang perempuan Indonesia yang dianggap masyarakat layak disebut sebagai Prada Prameswari. Mereka adalah Ani Bambang Yudhoyono - Ibu Negara RI, Siti Fadilah Supari - Menteri Kesehatan RI, Hartati Murdaya - Pengusaha Wanita, Kristina Akbar Tanjung - Penggiat Budaya, Widyawati Sophiaan - Aktris Film, Titiek Puspa - Artis & Penyanyi, Artika Sari Devi - Aktris Film & Presenter, serta Nurul Arifin - Artis & Politisi Wanita.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail: puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes. go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Hati-Hati dengan Hipertensi

21 August 2009

Beberapa waktu yang lalu saya kena gejala batuk dan badan lemas, kepala pening. Biasanya batuk saya biarin sampai empat hari lalu sembuh. Tapi itu kok gak sembuh. Lalu saya periksa ke dokter. Ternyata kena radang tenggorokan. Yang menarik bukan batuknya, karena itu hal biasa. Saya sempat ditensi, walhasil tensi darah saya 140. Ternyata itu yang menjadi penyebab kepala pusing dan badan lemas. Menurut dokter, itu sudah termasuk hipertensi. Dan itu berbahaya di usia di bawah 40 tahun. Di usia segitu maksimal tensinya 130. Kalau keterusan bisa berakibat fatal: ginjal bahkan stroke. Ada obat dan pencegahannya?

Dokter manyarankan merubah pola hidup tidur jangan terlalu malam, maks jam 22.00 harus sudah tidur. Enak banget obatnya. Tapi agak sulit bagi yang tak biasa tidur sore. Kalau sampai dua minggu belum juga turun dengan pola hidup itu, maka harus diobati.

Puskom Departemen Kesehatan pernah merilis masalah ini dalam situs resminya, bahwa hipertensi perlu diwaspadai karena merupakan bahaya diam-diam. Tidak ada gejala atau tanda khas untuk peringatan dini bagi penderita hipertensi. Dalam situs tersebut juga dijelaskan, sesungguhnya hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah.

Beberapa cara dapat dilakukan diantaranya dengan mempertahankan berat badan dalam rentang normal. Mengatur pola makan, antara lain dengan mengkonsumsi makanan berserat, rendah lemak dan mengurangi garam. Olahraga teratur, sedapat mungkin mengatasi stres dan emosi. Hentikan kebiasaan merokok, Hindari minuman beralkohol. Periksa tekanan darah secara berkala; dan bila diperlukan makan obat-obatan penurun tekanan darah secara teratur sesuai saran dokter.

Saya pernah menulis ini di status facebook saya dengan mengutip dari artikel di Kompas. Lalu saya mendapatkan tanggapan via pesan dari seorang teman sekaligus guru Food Combining. Begini tanggapannya:

Seorang dokter ahli ginjal pernah mengatakan, kalau tekanan darah mulai tinggi, itu pertanda bahwa ginjalnya mulai bermasalah. Dokter ahli penyakit dalam biasa belum tentu melihat kaitan antara hipertensi dan problem ginjal.

Saran saya, ada baiknya dievaluasi beberapa kebiasaan yang mungkin menjadi penyebab masalah ini:
  1. Apakah konsumsi air putihmu sudah cukup - 10 -12 gelas sehari. Kalau belum, coba pelan2 ditambah. Ada cara sederhana melakukannya: sekitar pk. 09.00 pagi, coba berhenti sejenak untuk mengingat2: apakah konsumsi air putih saya sudah mencapai 3 gelas? Kalau belum, tandanya kurang. Pk. 12.00 - apakah konsumsi air putih sudah 5-6 gelas? Kalau belum, tnadanya kurang banget. Begitu seterusnya.
  2. Kebanyakan mengkonsumsi protein hewan. Perlu diketahui bahwa proporsi konsumsi protein hewan dalam asupan makanan kita per hari adalah 10%, karbohidrat 20% dan sayur+buah 70%. Artinya, makan lauk hewan itu cukup satu potong saja di siang hari (Makan Siang). Selebihnya, buah, nasi dan sayur-mayur.
Di majalah Nirmala edisi oktober 2008 ada artikel tentang bagaimana seorang pasien gagal ginjal yg sudah cuci darah 3x seminggu, bisa terbebas dari cuci darahnya, dengan menghentikan konsumsi protein hewan samasekali (menjadi vegetarian).

Kamu mungkin belum perlu se-ekstrim itu, tapi ada baiknya sudah mulai mempertimbangkan untuk mengurangi makan pake ayam, daging, ikan, telur, dll. Pake sayur aja yang banyak plus tahu/tempe.

Semoga cepat sehat ya..


Bagimana dengan Anda? Yakinlah, menjaga kesehatan dengan mencegah penyakit masuk lebih baik ketimbang mengobati.
Baca Selengkapnya...

Food Combining versi Anung Nurrachmi

20 August 2009

Food Combining adalah teori tentang cara makan yang belum lama disosialisasikan di Indonesia (baru pada tahun 1996).

Intinya: selama ini cara makan kita tidak sesuai dengan cara kerja organ-organ tubuh kita sendiri. Sehingga makin banyak orang-orang yang masih muda sudah menderita penyakit-penyakit degeneratif, yakni penyakit yang dulu selalu diderita oleh orang-orang yang sudah tua, seperti jantung, darah tinggi, kolesterol tinggi, asam urat tinggi, rematik, kencing manis, obesitas (kelebihan berat badan), tumor, kanker, dsb.

Lambung kita mencerna makanan berdasarkan jenisnya, dan enzim yang digunakan juga berbeda untuk masing-masing jenis zat makanan:

  • Buah-buahan dicerna oleh lambung kita dan selesai hanya dalam waktu 15 -20 menit, kecuali pisang – 45 menit. Dan zat gula di dalam buah ini (fruktosa alami) langsung memberi kita energi instan yang kita perlukan untuk bekerja sejak pagi hari, sementara berbagai vitamin yang dikandungnya pun langsung terserap oleh tubuh dan membantu kerja-kerja organ tubuh kita.
  • karbohidrat (nasi, jagung, mie, roti) kalau dimakan sendiri, tanpa sayur atau lauk, akan memakan waktu 2 jam
  • sedangkan protein hewan (ayam, daging, ikan, telur) kalau tidak dicampur yang lain, memakan waktu sekitar 3-4 jam.
  • sementara kalau mencampur karbohidrat dengan protein hewan (seperti cara makan orang Indonesia kebanyakan, yaitu nasi dan lauk-pauk yang berasal dari hewan seperti ayam goreng, gulai dan rendang daging), akan perlu waktu lebih dari 7 jam untuk mencernanya.
  • jadi, kalau kita makan buah setelah makan, buah-buahan yang dalam waktu 15 menit selesai dicerna, tidak bisa turun ke dalam usus halus untuk proses pencernaan selanjutnya karena tertahan oleh jumlah banyaknya makanan yang baru kita makan, sedangkan enzim pencerna (atau kita kenal dengan nama awam “asam lambung”) terus memprosesnya, sehingga terjadi fermentasi (menjadi beralkohol seperti pada proses pembuatan tape), sehingga fermentasi dari zat buah ini membusukkan makanan yang tadi kita makan.

Di lain pihak, untuk mencerna makanan-makanan yang masuk ke lambung, diperlukan enzim-enzim yang akan dikeluarkan oleh empedu (terutama untuk protein hewan) dan kelenjar pankreas (terutama untuk karbohidrat.) Nah, kedua pabrik enzim ini, hanya mampu memproduksi enzim paling lama 4 jam. Setelah 4 jam dia akan sangat kelelahan dan tidak ada lagi enzim yang bisa diproduksi, sehingga sebagian besar makanan yang masuk tidak terbalut oleh enzim yang diperlukan. Maka, usus halus akan memperlakukannya bukan sebagai makanan, tapi sebagai sampah/racun. Ketika makanan yang masuk diperlakukan sebagai racun / “benda asing”, maka tubuh akan memproduksi leukosit (darah putih) lebih banyak, meski sebenarnya tidak ada penyakit yang menyerang. Di lain pihak, cara makan yang salah tersebut memberatkan kelenjar pankreas, dan juga organ-organ tubuh lain. Ini jelas merugikan tubuh kita, dan kalau terus menerus terjadi, akan merusak seluruh metabolisme tubuh (Penjelasan lebih lengkap ada di dalam buku FOOD COMBINING: Kombinasi makanan untuk langsing dan sehat, ditulis oleh Andang Gunawan – bisa didapatkan di berbagai toko buku.)

Karena itu, agar tubuh kita bekerja maksimal, agar kelenjar pankreas dan empedu tetap sehat, dan sambil memperbaiki metabolisme tubuh kita, makanan yang kita masukkan ke dalam tubuh kita (makanan yang kita makan) harus sesuai dengan cara kerja organ pencernaan (lambung dan usus) serta sesuai dengan siklus kerja tubuh kita.

Artinya ada 3 prinsip dasar cara makan pada Food Combining, yakni:

  1. Buah harus dimakan tersendiri, yakni sebagai sarapan di pagi hari dan sepanjang pagi, hingga jam 11. Jadi, sepanjang pagi kita hanya makan buah-buahan saja. Kalau setelah 1-2 jam masih lapar, makan buah lagi. Demikian hingga jam 11.00.
  2. Karbohidrat dan protein hewan harus dimakan terpisah. Maka, ketika makan nasi, makanlah nasi, sayur2an dan tahu/tempe – tanpa lauk dari hewan (disebut dengan Menu Karbohidrat). Sebaliknya, ketika makan lauk hewan, makanlah lauk, sayur2an dan tahu/tempe – tanpa nasi (disebut Menu Protein). Dengan cara ini, ketika kita makan menu protein hewan, pabrik enzim yang akan bekerja hanyalah empedu, sementara kelenjar pankreas istirahat. Dan ketika kita makan menu karbohidrat, pabrik enzim yang bekerja hanyalah pankreas, sementara empedu istirahat. Dengan cara ini, kita akan terhindar dari diabetes sebab kerja pankreas menjadi lebih mudah, dan kita juga tidak akan mengalami penumpukan batu di empedu sebab kerja empedu pun dipermudah. Tapi jangan lupa, kuncinya adalah pada sayur: akan jauh lebih baik bila setiap kali makan (baik menu karbohidrat maupun menu protein, sayur yang kita makan adalah 2 porsi atau 2 macam).
  3. Yang terakhir, jangan makan dan minum yang manis-manis setelah makan. Itu artinya tidak boleh mengkonsumsi teh manis, kopi manis, es buah, dan juga buah, serta kue-kue manis (atau biasa disebut makanan pencuci mulut). Pokoknya semua yang mengandung gula tidak boleh dimakan setelah makan. Gula adalah zat yang cepat sekali dicerna oleh tubuh. Sehingga kalau dikonsumsi setelah makan, ia akan membusukkan makanan yang tadi kita makan, sebagus apapun asupan gizi kita tadi.

Jadi, Jadwal Makan sebaiknya adalah:

- Pagi:
  1. Mulai hari Anda saat bangun tidur dengan segelas air hangat yang diberi perasan sepotong jeruk nipis (ini untuk menjaga elastisitas pembuluh darah dan membersihkannya dari penyempitan pembuluh darah akibat makanan berkolesterol tinggi, serta mengobati luka di usus yang biasa disebut sakit maag.)
  2. Lalu jus buah-buahan (semua buah – kecuali duren dan nangka – yang matang dan cukup manis, jangan yang asem).
  3. 1/2 jam kemudian, sepiring kecil buah potong campuran saja, lebih baik. Atau bisa juga satu buah apel, atau dua buah jeruk, atau dua buah markisa, misalnya. Terserah saja secukupnya bagi perut masing-masing. Kalau masih terasa lapar setelah 1 jam, makan buah lagi. (Awal-awalnya, pasti akan terasa sangat lapar, sehingga diperlukan lebih banyak porsi buah; sebaiknya makan satu atau dua buah pisang setelah makan buah yang lain supaya terasa kenyang. Setelah lewat 1 –2 minggu, perut kita akan mulai bisa menerima porsi yang kecil atau sedang.)

- Pk. 09.00 – 10.00:
Makan buah lagi

- Kalau sedang sakit atau bagi yang terlalu kurus:
Jam 09.30 - 10.00 : sepotong roti isi sayuran, atau singkong/ubi, atau bubur (tanpa ayam, tapi bumbu-bumbu dan kuah bubur ayamnya boleh). Atau Roti, tapi jangan pakai gula/selai. Kalau mau manis, pakai madu karena madu bersifat netral.

Makan Siang:
Makan siang sebaiknya protein hewan (lauk yang berasal dari hewan, seperti ikan-ikanan lebih baik, atau udang, atau ayam, atau telur – pokoknya lauk yang biasa kita makan sehari-hari), ditambah sayur-sayuran (harus banyak), tahu atau tempe – ingat, tanpa nasi! Bagi Anda yang menderita kista/tumor – baik di rahim atau di payudara – dan bagi yang kelebihan berat badan, sebaiknya hindari ayam negeri, sebab suntikan hormon yang diberikan kepada ayam akan menyuburkan sel-sel tumor tsb.

Jam 16.00:
Karena makanan siang sudah tercerna dalam waktu 3-4 jam, biasanya jam 16.00 – 17.00 kita akan merasa lapar lagi. Boleh ngemil, tapi sebaiknya hanya kacang-kacangan atau buah lagi. Sekali-sekali, boleh juga makan kue-kue, tapi jangan sering-sering, sebab ternyata tepung-tepungan seperti tepung terigu malah lebih sering berakibat buruk bagi tubuh kita (penjelasan lengkap ada di buku FC.) Kalau bisa menahan diri untuk tidak ngemil akan lebih baik.

Jam 19.00 (makan malam): Makan malam sebaiknya karbohidrat: kentang, jagung, atau nasi – nasi merah lebih baik, tahu dan tempe, sayur-sayuran. Sayurnya harus banyak – makin segar/mentah makin baik.

Jam 21.30 atau 22.00 (sebelum tidur): ½ gelas jus sayuran (jus timun, wortel, tomat, bayam, kacang panjang, sawi, seledri, atau campuran 2 macam sayuran).

Dengan cara ini, ketika kita memakan menu dominan karbohidrat, empedu sebagai pabrik enzim untuk protein diistirahatkan. Demikian pula sebaliknya, ketika kita makan menu dominan karbohidrat, kelenjar pankreas kita diistirahatkan. Dengan begini, penderita diabetes, misalnya, akan dapat memulihkan kemampuan kelenjar pankreasnya dalam waktu 2-3 bulan, dan terbebas dari diabetesnya karena insulin sudah dapat diproduksi sendiri lagi oleh tubuhnya.

Pengaturan jadwal makan pagi, siang dan malam hari ini telah disesuaikan dengan siklus kerja tubuh kita.

Pada pagi hari, mulai pk. 04.00 s/d 10.00 tubuh kita melakukan proses pembuangan sisa metabolisme dan sisa-sisa makanan dari usus besar. Kelenjar penghasil enzim pencernaan belum aktif pada jam ini. Itu sebabnya kita dianjurkan makan pagi hanya buah-buahan, sebab buah tidak memerlukan enzim yang lain selain enzim saliva yang ada di mulut kita (makanya kita harus mengunyah buah sampai lumat sebelum menelannya).

Pada siang hari, mulai pk. 10.00 hingga 20.00 tubuh kita sedang melakukan proses pencernaan zat-zat makanan. Kelenjar pencernaan paling siaga pada kisaran waktu ini. Itu sebabnya pada siang hari kita dianjurkan makan protein hewan, sebab protein hewan lebih lama dicerna daripada karbohidrat.

Pada malam hari, mulai pk 20.00 hingga 04.00, tubuh kita akan disibukkan dengan proses penyerapan zat-zat gizi yang sepanjang hari tadi masuk ke tubuh kita serta pembersihan organ-organ tubuh. Makan yang berat seperti protein hewan hanya akan percuma karena kelenjar pencernaan sudah mulai melambatkan kerjanya. Lihat artikel “Penyebab Kanker Hati” di website http://www.geocities.com/nurrachmi/.

Ini adalah prinsip dasar. Untuk lebih detail, silahkan baca bukunya.

Intinya, prinsip terpenting adalah:

  1. Makan buah tidak boleh setelah makan, jadi harus terpisah dari makanan lain. Oleh sebab itu kita makan sebagai sarapan pagi.
  2. Bedakan antara buah dan sayur. Sayur mengandung lebih banyak mineral, sedangkan buah lebih banyak mengandung vitamin. Tomat, timun, wortel dan alpokat, misalnya, adalah sayur, sebab kandungan mineralnya lebih dominan daripada kandungan vitaminnya.
  3. Jangan makan/minum yang manis-manis setelah makan (dessert – makanan pencuci mulut), karena hal ini juga akan memicu terjadinya fermentasi (misalnya, kopi manis, teh manis, es campur, dll.). Sebaiknya hindari gula sama sekali, termasuk gula sintetis seperti Equal, Tropicana Slim, dsb sebab gula sintetis ini terbuat dari bahan kimia yang justru lebih sulit dicerna dan berbahaya bagi tubuh..
  4. Jangan minum minuman ringan (softdrinks) seperti Coca Cola, Sprite dan Fanta sebab zat-zat di dalamnya ‘membuang’ kembali persediaan kalsium yang sudah ada di dalam tulang kita sehingga kita akan cepat menderita Tulang Keropos, terutama pada perempuan (padahal ini biasanya terjadi pada orang yang sudah tua.) – lebih dikenal dengan istilah pencucian kalsium. Selain kandungan gulanya sangat tinggi (1 kaleng Coca-Cola mengandung 10 sendok gula), zat-zat yang ada di dalam softdrinks juga merusak organ-organ tubuh lainnya.
  5. Hindari Alkohol dan Kopi – terutama kopi instan – sebab kedua hal ini menghambat penyerapan vitamin B dan Kalsium dari makanan yang kita makan (padahal semua sayuran hijau mengandung kalsium dan banyak sayuran dan buah yang mengandung vitamin B). Kalaupun harus minum kopi, jangan lebih dari 2 cangkir sehari, jangan pakai gula, dan jangan kopi instan. Efek sampingnya lebih buruk.
  6. Tinggalkan zat-zat tambahan makanan dan pengawet seperti vetsin (Sasa, Miwon, dll) termasuk Royco, Masako, dkk. Zat-zat kimia di dalam penyedap makanan tersebut hanya meracuni tubuh kita saja, sebab sangat sulit dicerna oleh tubuh kita.
  7. Juga hindari makanan awetan dan kalengan seperti mie instan (semua merk!!), kornet, dsb.
  8. Pada 2-3 hari pertama Anda mencoba beralih ke cara makan ini, akan ada proses pembuangan racun, yang bisa jadi ber-efek pusing atau gejala lainnya. Biarkan saja, jangan minum obat, teruskan jadwal makan seperti yang dianjurkan. Seharusnya gejala tersebut akan hilang setelah 1-3 hari.
Catatan: Akan jauh lebih baik bila memulai cara makan Food Combining dengan proses pembuangan racun-racun di dalam tubuh atau DETOKSIFIKASI a la Food Combining (secara alami, hanya dengan buah-buahan). Untuk mengetahui langkah-langkah yang harus diikuti dalam proses Detoksikasi, lihat di www.geocities.com/nurrachmi. Sebaiknya proses detoksifikasi harus dilakukan dengan terlebih dahulu dikonsultasikan atau dipantau oleh ahlinya. Bisa hubungi saya di e-mail nurrachmi@yahoo.com

Sumber: Nurrachmi
Baca Selengkapnya...

Kumulatif Kasus Positif Influenza A H1N1 930 Kasus

19 August 2009

Badan Litbangkes Depkes tanggal 18 Agustus 2009, melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 22 orang. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 930 orang, tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah. Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tetap sehat yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber : Depkes.go.id
Baca Selengkapnya...

Depkes Tetapkan 132 Nakes Teladan 2009

15 August 2009

Atas prestasi yang luar biasa dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan memajukan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya 132 Tenaga Kesehatan (Nakes) Puskesmas dari seluruh Indonesia ditetapkan sebagai Nakes Teladan Tingkat Nasional Tahun 2009.

Mereka terdiri dari 33 orang tenaga medis (28 dokter umum dan 5 dokter gigi), 33 orang tenaga keperawatan, 33 orang tenaga pengelola gizi/nutrisionis dan 33 orang tenaga kesehatan masyarakat/sanitarian/penyuluh.
Atas prestasinya itu, mereka diundang ke Jakarta untuk mengikuti berbagai acara kenegaraan seperti peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan ke-64 di Istana Negara tanggal 17 Agustus 2009 dan memperoleh penghargaan Menteri Kesehatan RI. Selain itu, para Teladan juga akan beraudiensi dengan Ketua DPR, MPR serta dengan Presiden RI.

Hal itu disampaikan dr. Bambang Sardjono, MPH, Direktur Bina Kesehatan Komunitas Ditjen Bina Kesmas Depkes yang juga Ketua Panita Pelaksana Pemberian Penghargaan Nakes Teladan Puskesmas Tingkat Nasional Tahun 2009, di Jakarta tanggal 15 Agustus 2009.

Ditambahkan, pemberian penghargaan ini dimaksudkan untuk memacu motivasi Nakes sehingga Puskesmas yang merupakan sarana pelayanan kesehatan terdepan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayahnya. Penghargaan yang akan mereka terima berupa Piagam Penghargaan Menteri Kesehatan, satu unit Sepeda Motor dan satu set Laptop beserta printernya.

Menurut Bambang Sardjono, pemilihan Nakes Teladan Tingkat Nasional ini dilaksanakan untuk yang ke-5 kalinya setelah Era reformasi. Sebelum reformasi, Pemilihan Teladan pernah diadakan dan terhenti semenjak terjadi krisis moneter tahun 1998 . Dan baru diadakan lagi sejak tahun 2005 sampai sekarang, ujarnya.

Pemilihan Nakes Teladan Puskesmas dilakukan oleh Tim Penilai secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota sampai tingkat provinsi. Tim Penilai tingkat Kab./Kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota dari unsur Dinkes Kab/Kota dan pejabat lintas sektor serta organisasi profesi terkait. Di tingkat Provinsi, Tim Penilai ditetapkan oleh Gubernur dari Dinas Kesehatan Provinsi, pejabat lintas sektor dan organisasi profesi.

Tim Penilai Kab./Kota menilai dan memilih Nakes Teladan Puskesmas berdasarkan pedoman yang telah ditetapkan. Selanjutnya mengajukan nama calon Nakes Teladan Puskesmas kepada Bupati/Walikota untuk ditetapkan sebagai Nakes Teladan Puskesmas Tingkat Kab./ Kota dan diusulkan ke Panitia Pemilihan Tingkat Provinsi.

Sedangkan Tim Penilai Tingkat Provinsi bertugas menilai dan memilih Nakes Teladan Tingkat Provinsi untuk selanjutnya mengajukan nama calon Nakes Teladan Puskesmas kepada Gubernur untuk ditetapkan sebagai Nakes Teladan Puskesmas Tingkat Provinsi serta mengirimkan Nakes Teladan Tingkat Provinsi kepada Menkes cq. Panitia Pemberian Penghargaan Nakes Teladan Tingkat Nasional.

Komponen penilaian terdiri dari kriteria umum dan kinerja. Kriteria umum meliputi berakhklak dan berbudi pekerti baik, tidak sedang dalam kasus pidana/perdata dan penyalahgunaan Napza, berjasa terhadap masyarakat di wilayah kerjanya baik langsung maupun tidak langsung dan lulus seleksi yang dilakukan Tim Penilai.

Sedang komponen kinerja yang dinilai adalah Nakes sebagai penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, sebagai tenaga pemberdayaan masyarakat, sebagai pemberi pelayanan kesehatan strata pertama, sebagai pegawai Puskesmas (tanggung jawab, ketaatan, kejujuran, kerja sama, prakarsa dan kepemimpinan), sebagai Nakes profesional (keikutsertaan dalam bidang keilmuan, hubungan dengan pasien dan keluarga miskin, hubungan dengan rekan kerja), sebagai anggota masyarakat (kepribadian, peran serta dalam masyarakat, berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, berperan dalam pembinaan generasi muda dan berperan dalam organisasi kemasyarakatan). Untuk memilih Nakes Teladan Puskesmas, panitia telah menentukan bobot penilaian dengan rentang skor 61 – 100. Skor penilaian 91 – 100 (amat baik), 76 – 90 (baik), dan 61 – 75 (cukup).

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes.go.id


Baca Selengkapnya...

Menkes Menerima 98 Pemenang Lomba Sekolah Sehat

13 August 2009

Dimasa mendatang penilaian lomba sekolah sehat tidak hanya menilai segi fisik saja tetapi juga perlu menilai dari segi perubahan perilaku peserta didik kearah perilaku hidup bersih dan sehat, seperti kebiasaan mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, kemantapan mental-emosional, mencegah penyalahgunaan narkoba dan tawuran serta pemalakan. Hal itu dikatakan Menkes, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dalam sambutan ketika menerima pemenang Lomba Sekolah Sehat tahun 2009 di kantor Depkes Jakarta, 13 Agustus 2009.

Menkes menambahkan, pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) harus mengikuti perkembangan masalah kesehatan dan menyesuaikan kurikulumnya seperti memberi pengetahuan tentang HIV AIDS, Flu Burung, Flu Baru (H1N1), Obesitas sebagai faktor risiko penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, katanya.

”UKS yang dilaksanakan di sekolah, madrasah, pesantren maupun kelompok belajar lainnya dapat memberikan daya ungkit yang nyata terhadap kesehatan anak usia sekolah. Mereka berjumlah besar dan merupakan sasaran yang mudah dicapai karena terorganisir dengan baik. Selain itu mereka sangat cepat menerima informasi dalam rangka pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat”, ujar Menkes.

Menurut Menkes, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memajukan program UKS yaitu harus mulai dikembangkan tidak saja pada anak anak yang berada di institusi sekolah tetapi harus mulai menggarap anak-anak di luar sekolah terutama remaja-remaja yang yang berada di luar sekolah. Kemudian program UKS hendaknya dapat lebih dikembangkan dibandingkan dengan saat ini tidak hanya pada saat akan mengadakan Lomba Sekolah Sehat (LSS) saja, tetapi lebih berkembang di pondok-pondok pesantren dan sekolah-sekolah keagamaan lainnya.

Ditambahkan, kecenderungan perilaku berisiko yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah seperti merokok, minum minuman beralkohol dan melakukan hubungan seks pra nikah mulai bergeser ke usia yang lebih muda yaitu usia sekolah dasar. Karena itu pendidikan dan penyuluhan kesehatan harus ditingkatkan yang dimulai dari pendidikan tingkat dasar sampai sekolah lanjutan, ujar Menkes.

Pemenang Lomba Sekolah Sehat (LSS) tahun 2009 berjumlah 98 sekolah, terdiri dari tingkat Taman Kanak-kanak/Raudatul Atfal 23 sekolah, tingkat SD/Madrasah Ibtidaiyah 26 sekolah, tingkat SMP/Madrasah Tsanawiyah 25 sekolah dan tingkat SMA/Madrasah Aliyah 24 sekolah. Lomba Sekolah Sehat Tahun 2009 diikuti 26 provinsi, sedangka provinsi yang tidak mengikuti Lomba yaitu : Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan dan Riau.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416 – 19 dan 021-52921669, atau melalui alamat e-mail : puskom.depkes@gmail.com dan puskom.publik@yahoo.co.id.

Sumber: Depkes.go.id
Baca Selengkapnya...

Sebelas Kasus Baru Positif Influenza A H1N1

12 August 2009

Tanggal 11 Agustus 2009, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 11 orang terdiri dari 3 laki-laki dan 8 perempuan, semuanya WNI. Dua orang mempunyai riwayat perjalanan ke Korea, tujuah orang tidak ada riwayat perjalanan ke luar negeri dan dua orang lagi tidak jelas perjalanannya, kata Prof. dr. Agus Purwadianto, SH. Sp. FK, Kepala Badan Litbangkes Depkes.

Tambahan kasus baru berasal dari 7 provinsi yaitu : Bali (2 orang), Banten.(1 orang), DKI Jakarta (2 orang), Jawa Barat (1 orang), Jawa Tengah (2 orang), Jawa Timur (1 orang) dan Yogyakarta (2 orang).

Sementara itu Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes menambahkan, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 sampai 11 Agustus berjumlah 823 orang terdiri dari 459 laki-laki dan 364 perempuan ( 3 orang meninggal dunia ), tersebar di 23 provinsi.

Prof. Tjandra menjelaskan, sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (11/06/2009), di seluruh dunia sampai 4 Agustus 2009 sudah 168 negara yang melaporkan kasus influenza A H1N1 dengan 162.380 kasus positif, 1.154 diantaranya meninggal dunia (CFR = 0.71). Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tetap sehat yaitu makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes.go.id
Baca Selengkapnya...

Global Fund Kembali Salurkan Dana Hibah 240 Milyar untuk Tanggulangi TB di Indonesia

11 August 2009

Pemerintah dan masyarakat Indonesia sepakat untuk menanggulangi Tuberkulosis (TB) untuk mengubah generasi mendatang lebih sehat sehingga terhindar dari gangguan penyakit TB dan kematian akibat resisten obat TB. Hal itu disampaikan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, DTM&H, Dirjen P2PL Depkes pada penandatanganan bantuan hibah 240 miliar rupiah untuk penanggulangan TB di Indonesia dari GF ATM di Nusa Dua, Denpasar Bali, 11 Agustus 2009.


Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, DTM&H, Dirjen P2PL Depkes, selanjutnya mengatakan bahwa penanggulangan tuberkulosis merupakan program prioritas yang telah mengalami perkembangan yang berarti selama pelaksanaan strategi StopTB. Perkembangan secara cepat di Indonesia tersebut untuk mencapai target Global pada tahun 2006 dengan angka kesembuhan melebihi 85% dan hal ini dapat juga dipertahankan pada tahun 2008.

Kesuksesan pelaksaaan DOTS tidak lepas dari peranan berbagai mitra seperti LSM, organisasi profesi, akademisi serta organisasi lainnya. Disamping itu juga karena didukung oleh infrastruktur dan sumber daya manusia yang memadai.

Berkaitan dengan pendanaan penanggulangan TB, selain dana dari APBN, APBD dan sumber dalam negeri maka Indonesia telah menerima bantuan donor dari luar negeri. Pada tahun 2000 bantuan hibah Pemerintah Belanda digunakan untuk pengembangan pertama Rencana Strategis Nasional penanggulangan TB sebagai pedoman pelaksanaan Strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) dan pengembangan program pelayanan kesehatan lainnya. Pada tahun 2002 bantuan dari negara donor mulai meningkat dan tahun berikutnya berasal dari Global Fund AIDS, Tuberkulosis dan malaria (GF ATM yang ditandatangani pada tahun 2003 (putaran 1) dan tahun 2007 (putaran 5) dengan total 118.903.489 Dolar Amerika Serikat.

Dengan kerja keras semua pihak dan didukung oleh berbagai bantuan yang ada, Indonesia mampu mengembangkan pelaksanaan strategi DOTS secara luas.

Pada proposal ke-3 Ronde 8 pemerintah Indonesia bersama dua mitra yang mewakili masyarakat (PP Aisyiyah) dan Akademisi (FKM UI), menjalankan program dengan tema: “Mengkonsolidasikan Perkembangan dan Memastikan Pelayanan DOTS untuk semua”.

Pada kesempatan tersebut Dirjen PP & PL menyampaikan pernghargaan dan terima kasih atas dukungan mitra GF ATM dan mitra lainnya seperti WHO, USAID, Pemerintah Jerman dan Australia, KNCV, UNDP dan Lembaga Donor lainnya dalam penanggulangan TB.

Acara penandatanganan ini masing-masing dilakukan antara Authorized Principle Recipient (PR) Depkes oleh Dr. Iwan Muljono, MPH Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung dan Prof. Michell Kazatchkine Direktur Eksekutif GF-ATM, Noor Rochmah Ketua Umum PP Aisyiyah dan Dr. Adang Bachtiar, MPH, Wakil FKM Universitas Indonesia, Dr. Arum Atmawikarta, Ketua CCM Indonesia dan Prof. Dr. Sudijanto Kamso, Perwakilan Organisasi Kemasyarakatan yang disaksikan oleh Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp(P), MARS, DTM&H, Dirjen P2PL.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Kongres ICAAP ke-9, BICC-Denpasar, 9-13 Agustus 2009

10 August 2009

Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadillah Supari, Sp.JP (K) mengatakan pemberian Anti Retroviral Treatment secara gratis oleh Indonesia, memperlihatkan penurunan angka kematian. Hal itu disampaikannya dalam pidato yang dibacakan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), Dirjen P2PL Depkes pada Kongres Internasional ke 9 Tentang AIDS di Kawasan Asia dan Pasifik (ICAAP) di Westin Hotel, BICC-Denpasar, tanggal 10 Agustus 2009. Kongres yang berlangsung tanggal 9-13 Agustus dihadiri para menteri dan duta duta besar dari Negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Tujuan kongres yaitu untuk membahas, antara lain, isu tentang mobilitas, migrasi, serta isu gender dan penyandang cacat, agar dapat memberdayakan anggota masyarakat seutuhnya dan memperkuat jejaring kerja sehingga mampu merespon AIDS secara efektif.


Menkes RI selanjutnya menyatakan: "upaya yang dilakukan dengan menerapkan pendekatan kesehatan masyarakat dalam penyediaan ART (Anti Retroviral Treatment), menunjukkan peningkatan ketahanan hidup secara signifikan diantara para penderita yang mendapat terapi tersebut."

Kongress ini di selenggarakan untuk mempromosikan pencapaian terbaik secara ilmiah dan serta keingintahuan, menyediakan forum bagi dialog yang bermakna dan bekualitas, mendorong dan memupuk akuntabilitas dan langkah langkah individu atau kolektif dalam menghadapi HIV dan AIDS di Asia dan Pasifik serta memastikan adanya kesinambungan respons bersamaan dengan keterlibatan penuh para ODHA dan kelompok kelompok berpengaruh lainnya dalam masyarakat.

HIV di Indonesia

Perkembangan HIV di Indonesia berbeda dari propinsi ke propinsi. Didalam laporan Departemen Kesehatan, dua propinsi Indonesia timur yaitu provinsi Papua dan Papua Barat sedang menghadapi epidemi umum dengan perkembangan HIV berada pada angka 2,4%.

Bali, pulau cantik di Indonesia dimana konggres internasional ke 9 ICAAP berlangusng adalah provinsi dimana kasus pertama AIDS Indonesia - Acquired Immunodeficiency Syndrome - dilaporkan pertama kali di tahun 1987. Sejak itu jumlah ODHA (Orang Hidup Dengan HIV/AIDS), terus meningkat. Selama dua dekade ini angka Indonesia itu telah berlipat ganda mencapai perkiraan 277.000 kasus.

Dukungan Perawatan dan Pengobatan

Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari juga meyebutkan bahwa Indonesia, dalam hal dukungan perawatan dan pengobatan, telah menerapkan pemberiran Antiretroviral Therapy (ART) di 25 rumah sakit di tahun 2004 dan secara bertahap jumlahnya ditingkatkan menjadi 150 rumah sakit ART di tahun 2007 dan saat ini telah mencapai 234 rumah sakit.

Jumlah ODHA yang sudah masuk perawatan ini ialah 43.118 orang, 21.653 orang pernah diobati dengan antiretroviral (ARV), dan 12.493 orang yang sampai saat sedang dalam pengobatan ARV. Pengobatan ARV diberikan secara Cuma-cuma, karena disubsidi penuh oleh pemerintah. Sekarang ini, terdapat 547 pusat pusat Voluntir Konseling & Pemberian Test (VCT) di seluruh penjuru negeri, yakni pusat pusat yang memberikan dan menyediakan tes dan konseling terus- menerus, yang berafiliasi dengan kelompok kelompok peduli HIV/AIDS di masyarakat. Pengawasan HIV dan penyakit menular seksual (PMS) generasi kedua juga sudah dilaksanakan di negeri ini, sejak lebih sepuluh tahun yang lalu. Dampak yang luar biasa sudah terlihat dengan menurunnya tren kematian, sejak terapi Antiretroviral (ART) diterapkan, dari 46% di tahun 2006, turun menjadi 17% di tahun 2008.

Issu Strategis Indonesia

Kemajuan Indonesia menangani HIV/ AIDS terkendala masih rendahnya pemahaman terhadap cara dan metoda pencegahan dan pengendalian infeksi HIV serta meningkatnya penyebaran infeksi karena PMS dan HIV. Keseluruhan tantangan ini masih belum didukung oleh pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat yang komprehensif untuk penanganan PMS, HIV/AIDS, serta masih lemahnya kesinambungan manajemen program termasuk pendanaan.

HIV di Kawasan Asia Pasifik

Menurut WHO, kawasan Asia Pasifik mempunyai beban HIV kedua tertinggi, didunia, dengan perkiraan 4,9 juta orang hidup dengan HIV/AIDS. Di kawasan yang padat dan beragam ini, HIV dianggap sebagai epidemi terkonsentrasi, dimana kasus HIV tercatat tertinggi dikalangan populasi berisiko tinggi, termasuk pekerja seks komersial serta para pelanggan mereka, pengguna Narkoba suntik (Penasun), dan semakin meningkatnya seks antar pria (LSL). Lebih dari 95% kasus HIV di kawasan Asia Pasifik terjadi di 9 negara yaitu : Kamboja, Cina, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Papua New Guinea (PNG), Thailand, dan Vietnam. Di 9 negara ini, diperkiraan jumlah ODHA mencapai sekitar 4,5 juta orang.

Namun begitu, mayoritas pengidap yang memerlukan perawatan di negara negara Asia Pasifik masih belum mendapat pengobatan ART. Tantangan pemerintah untuk pengembangan program kedepan termasuk pendeteksian dini atau screening untuk pemberian ART, pemantauan pasien yang lebih baik, desentralisasi dan integrasi ART kedalam sistem pelayanan kesehatan nasional, pengembangan system perawatan nasional untuk mendukung pasien yang memerlukan terapi seumur -hidup, dan memperkuat system monitor pasien untuk meningkatkan kelancaran pemberian perawatan.

Dukungan pendanaan yang terus menerus, baik dari eksternal maupun dari pemerintah akan sangat diperlukan demi kelanjutan momentum untuk kelanjutan perluasan lebih ART. Kawasan Asia Pasifik sudah menunjukkan kemajuan yang sangat mengesankan dalam penyediaan perawatan dan pengobatan yang memadai bagi orang yang terinfeksi HIV.

Kemajuan Indonesia Memerangi HIV/AIDS

Menteri Kesehatan Indonesia, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) mengatakan, "di dalam program pengendalian dan pencegahan HIV/AIDS, pemerintah telah mengawali suatu pendekatan dengan tema Desa Siaga. Ini merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah kesehatan – termasuk HIV/AIDS. Seperti halnya di negara negara lain, pencegahan serta upaya pengendalian HIV/AIDS di Indonesia masih menghadapi tantangan yang kompleks. Menteri Siti Fadillah Supari, menyatakan: “sangat penting bagi kita semua, untuk bekerja sama dengan erat, demi pencegahan penyebaran penyakit ini serta menjauhi stigmatisasi dan diskriminasi."

"Didalam krisis ekonomi global ini, membutuhkan kepimpinan yang kuat untuk menanggulangi dampak krisis, termasuk dalam program penanggulangan dan pengendalian HIV/AIDS. Kebijakan yang kuat dan tegas, serta dukungan dan fasilitas diperlukan untuk memberikan arah yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat " .

Harapan bagi Sukses di Masa Depan

Kongres Internasional ke 9 Tentang AIDS di Kawasan Asia dan Pasifik (ICAAP) di Bali di bulan Agustus 2009, dengan tujuan mempromosikan kecanggihan ilmu pengetahuan dan keingin tahuan, menyediakan forum dialog yang bermakna dan berkualitas, mendorong akuntabilitas dan memberikan motivasi langkah langkah baik bagi individu maupun kolektif dalam menghadapi HIV dan AIDS di kawasan Asia dan Pasifik serta memastikan kesinambungan respons tersebut. Semua stakeholders pengendalian dan pencegahan HIV/AIDS di kawasan Asia dan Pasifik diharapkan untuk berkerja keras mencari jawaban jawaban terhadap perwujudan kerja sama antara berbagai kepentingan dari berbagai negara termasuk memberdayakan orang orang serta memperkuat jejaring kerja untuk mencapai sukses dalam menghentikan epidemi AIDS di kawasan Asia Pasifik dan dunia.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh peserta konggres internasional ke 9 ICAAP ini ialah mencari cara yang lebih baik untuk dapat memberdayakan serta memperkuat jejaring kerja antar masyarakat di kawasan ini. Harapan besar pada konggres ini yaitu memberi hasil hasil berupa ide-ide baru dan segar serta bukti bukti baru dengan cara cara yang lebih baik dalam pengendalian epidemi HIV/AIDS.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id,info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Konser Peduli Anak Berkebutuhan Khusus

07 August 2009

Hari Kamis kemarin, 06/08/09, Ibu Hj. Ani Soesilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka Konser Peduli Anak Indonesia Berkebutuhan Khusus di Hotel Borobudur Jakarta. Konser diselenggarakan atas kerjasama Departemen Kesehatan dengan Program Indonesia Sehat Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Acara dihadiri beberapa menteri, diantaranya Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K), Anggota SIKIB dan Gubernur DKI Jakarta.


Acara ini didukung berbagai perusahaan dan dimeriahkan pagelaran Musik Anak Berprestasi dari Yamaha Boys, pagelaran musik oleh Anak Intervensi Modern Kawai Indonesia, persembahan tari Saman oleh Anak Bertalenta Khusus YPAC Nasional, Permainan Angklung Anak-anak Down Syndrome serta pengisi acara utama Miss. Hee Ah Lee dari Korea.
Pada kesempatan tersebut Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) secara simbolis menyerahkan sumbangan kepada 7 Panti/Yayasan Anak-Anak Berkebutuhan Khusus yaitu: Yayasan Kesejahteraan Penyandang Cacat (YPKC) GBKP Alpha Omega, Kabanjahe, Sumatera Utara, Panti Anak Cacat Terlantar Yayasan Sayap Ibu, Bintaro Tangerang, Banten, Wisma Tuna Ganda Palsigunung Cimanggis, Bogor, Jabar, Yayasan Keluarga Kependidikan Sumberharjo, Pacitan, Jatim, Yayasan Pendidikan Melati Ceria/Panti Anak Berkebutuhan Khusus Budhi Karya-SLB Melati Ceria, Palangkaraya, Kalteng, Panti Asuhan Anak-anak Cacat Bhakti Luhur Kupang, NTT, Tfasana Foundation Rawamangun, Jakarta Timur.

Ketua Panitia Konser, dr. SK Amdani Hendarman Supanji, Sp.A (K), MSc yang juga menjabat Direktur Utama RS Anak dan Bunda Harapan Kita dalam laporannya menyatakan bahwa maksud diadakan konser adalah untuk menginspirasi masyarakat terutama orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus bahwa impian atau cita-cita mereka dapat diraih apabila memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Juga untuk mengetuk hati para dermawan untuk turut membantu pusat-pusat rehabilitasi atau yayasan yang membina anak-anak berkebutuhan khusus dalam mengembangkan kemampuan dan bakat mereka sehingga dapat hidup mandiri untuk mewujudkan putra-putri Indonesia yang berprestasi walaupun memiliki keterbatasan.

Dana yang diperoleh dari dukungan perusahaan-perusahaan tersebut kata dr. SK Amdani, akan disumbangkan kepada yayasan-yayasan yang peduli pada pembinaan anak-anak yang berkebutuhan khusus yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Diharapkan, kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus terus ditingkatkan untuk menjadikan mereka anak-anak yang berkualitas dan mandiri seperti anak-anak pada umumnya, ujar dr. SK Amdani.

Anak berkebutuhan khusus (ABK), sekarang disebut anak dengan kebutuhan pendidikan khusus (AKPK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak yang termasuk kelompok ini adalah tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, tuna laras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat.

Karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki, AKPK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensinya. Contohnya bagi tuna netra memerlukan modifikasi teks bacaan menggunakan huruf Braille dan tuna rungu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat dan sebagainya.

Menurut data Sensus Nasional Biro Pusat Statistik tahun 2003, jumlah penyandang cacat di Indonesia sebesar 0,7% dari jumlah penduduk 211.428.572 atau sebaanyak 1.480.000 jiwa.Dari jumlah itu sebesar 21,42 % atau 317.016 anak diantaranya adalah anak cacat usia sekolah (5-18 tahun).

Tentang Hee Ah Lee, adalah seorang anak berkebutuhan khusus dari Korea yang menderita ectrodoctyly atau dikenal dengan sindrome capit lobster dan sejak lahir hanya memiliki 4 jari. Hee Ah Lee berhasil menunjukkan determinasi, pelatihan terhadap kemampuannya untuk bermain piano. Pada usia ke-23 sudah mengadakan 27 kali pertunjukan yang mendapat sambutan luar biasa di berbagai negara.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Menkes Saksikan Kerja Sama Depkes dengan Telkomsel

06 August 2009

Hari Rabu kemarin (05/08/09) Menkes Dr.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) menyaksikan penandatangan kerja sama antara Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. dr.Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K).MARS dengan Direktur Utama PT. Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Kantor Departemen Kesehatan, Jakarta. Kerjasama tersebut terkait dengan Program “Perlindungan Keluarga dengan Kasih Sayang (Peluk Asa) “Perang Melawan Demam Berdarah”. Program ini secara garis besar akan diselenggarakan selama tiga tahun. Pada tahun pertama akan melakukan metode uji coba pada 14 Kabupaten/Kota yang memiliki kasus Demam Berdarah relatif tinggi yaitu Medan, Bandar Lampung, DKI Jakarta, Depok, Bekasi, Cimahi, DIY, Surabaya, Mataram, Balikpapan, Menado, Makassar dan Sorong.


Dalam sambutannya Menkes menyambut baik kerjasama ini, karena kemitraan ini penting dan strategis. Penting karena Departemen Kesehatan memerlukan mitra dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan, karena tidak mungkin dapat mengatasi sendiri masalah tersebut. Strategis karena substansi kerjasama ini akan dapat mempercepat peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan hidup sehat. Produk kerjasama ini berupa informasi atau pesan kesehatan yang dapat disebar-luaskan melalui media elektronik dan dapat diakses oleh semua pengguna Telkomsel.
Upaya yang dikemas dalam bentuk “Peluk Asa” ini merupakan bagian dari aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) yang tentunya perlu didukung sehingga materi yang disajikan atau ditayangkan dapat sejalan dengan visi dan misi Departemen Kesehatan. Dengan demikian, diharapkan program edutainment “Peluk Asa” dapat mengurangi kejadian DBD, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat dalam membangun upaya kesehatan berbasis masyarakat, ujar Menkes.

Menkes berharap, kerjasama dengan Telkomsel yang berawal memerangi Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui peningkatan kesadaran masyarakat, selanjutnya diperluas dengan upaya mencegah penyakit, menjaga, memelihara untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang cenderung menyebar luas dan berpotensi menjadi wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh wilayah DKI Jakarta, sepanjang tahun 2009 kasus DBD tertinggi pada bulan April sebanyak 4.261 penderita, dengan tiga orang meninggal. Sedangkan kasus kematian tertinggi akibat DBD di sepanjang tahun 2009 ini pada bulan Januari dengan delapan kasus kematian dari 3.130 penderita. Hingga Juli 2009 ini berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, total penderita DBD di seluruh wilayah DKI Jakarta adalah 22.609 orang dengan 31 kematian, tambah Menkes.

Menkes mengingatkan, upaya pemberantasan penyakit DBD harus terintegrasi mulai dari pencegahan, penemuan penderita, pengamatan penyakit, penyelidikan epidemiologi, penanggulangan, dan penyuluhan kepada masyarakat. Selain itu, dilakukan pula penggerakan masyarakat melalui program 3M Plus (Menutup wadah penampungan air, Mengubur atau membakar barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk, dan Menguras atau mengganti air di penampungan air). Serta menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk oles, menggunakan kelambu saat tidur dan menaburkan bubuk abate.

Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan masyarakat adalah membiasakan diri menjaga sanitasi lingkungan dan tempat tinggal tetap bersih dan sehat. Hal ini merupakan kunci dalam pengendalian terhadap bahaya demam berdarah, ujar dr. Siti Fadilah.

Meskipun informasi tentang penyebab dan cara pencegahan sudah disosialisasikan kepada masyarakat, tetapi sampai saat ini angka kesakitan dan kematian akibat DBD masih relatif tinggi. Diharapkan kerjasama dengan Telkomsel dapat mendorong terbentuk sukarelawan yang berasal dari tokoh masyarakat untuk membimbing, mendampingi dan mengaktifitasi masyarakat untuk mandiri menolong dirinya sendiri, tambah Menkes.

Menkes mengakui, betapa kuatnya peran SMS dalam kehidupan masyarakat, maka dimasa mendatang kerjasama lebih ditingkatkan lagi, khususnya dalam mem-broadcast pesan-pesan kesehatan melalui SMS, dalam upaya meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ditengah masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id,info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Menkes Kukuhkan 8.300 Dasipena DKI Jakarta

Hari Selasa (04/08/09) Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) mengukuhkan 8.300 anggota Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena) DKI Jakarta di lapangan IRTI Monas, Jakarta Pusat. Anggota Dasipena DKI Jakarta berasal dari 5 wilayah dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Hadir dalam acara tersebut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Wali Kota 5 wilayah, Bupati Kep.Seribu, para Rektor Universitas, para Alim Ulama dan Tokoh Masyarakat DKI Jakarta, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta Muspida setempat. Dengan diresmikannya Dasipena DKI Jakarta ini, kini telah terbentuk 7 Dasipena yaitu: Sulsel, Jateng, Jatim, Bali, Jabar, Kalsel dan DKI Jakarta.


Menkes dalam sambutannya menyatakan, pembentukan Dasipena merupakan kebutuhan yang mendesak mengingat Indonesia rawan bencana baik bencana alam, bencana karena ulah manusia maupun kedaruratan kompleks.
Kesempatan terbaik untuk menyelamatkan jiwa korban bencana adalah pada saat-saat pertama setelah bencana terjadi. Melalui Dasipena inilah komponen pemuda yang terdiri dari mahasiswa, pemuda pesantren, saka bakti husada, pecinta alam, pemuda partai serta organisasi kepemudaan lainnya ditingkatkan kapasitasnya dengan pelatihan pertolongan pertama pada korban cidera serta dasar-dasar penanggulangan bencana.

Dengan terbentuknya Dasipena, keberadaan mereka sangat tepat dan strategis sehingga menjadi faktor kunci dalam penyelamatan jiwa dan mengurangi penderitaan para korban bencana. Diharapkan Dasipena menjadi salah satu bagian tim kesehatan pertama yang akan dimobilisasi selama masa tangap darurat. Dasipena akan mendukung pelayanan kesehatan setempat dalam penanganan korban secara cepat dan memadai, ujar Menkes.

Menkes mengharapkan gubernur, bupati/walikota, kepala dinas kesehatan beserta aparat kesehatan lainnya, terutama daerah yang rawan bencana untuk selalu waspada dan mensiagakan tim reaksi cepat kesehatan yang tanggap sehingga dapat membantu masyarakat secara cepat dan tepat. Hal ini semakin dimudahkan dengan terbentuknya Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Regional sejak Desember 2006 di 9 provinsi. Pembentukan PPK Regional DKI Jakarta bertujuan untuk mendukung penanggulangan krisis di wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Kalimantan Barat, tambah Menkes.

Berdasarkan data Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Depkes, sepanjang tahun 2006 sampai dengan bulan Juni 2009 terjadi peningkatan frekuensi kejadian bencana. Pada tahun 2006 terjadi 162 kali kejadian bencana, tahun 2008, 456 kali kejadian bencana; dan tahun 2009 sampai dengan Juni tercatat 204 kali kejadian. Sedangkan jumlah korban akibat bencana tahun 2006 tercatat korban meninggal 7.618 orang, tahun 2007; 766 orang, tahun 2008; 337 orang dan tahun 2009 sampai bulan Juni sebanyak 233 orang.

Korban meninggal akibat bencana dari tahun ke tahun dapat diminimalisir, hal ini dimungkinkan karena upaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah beserta segenap jajaran kesehatan dan peran serta masyarakat sudah semakin baik, ujar dr. Siti Fadilah.

Menurut Menkes, Depkes selalu memantau setiap kejadian bencana yang berdampak pada masalah kesehatan dan memberikan dukungan sepenuhnya untuk merespons dengan cepat, tepat dan efisien.

Dalam hal penanggulangan bencana, pemerintah Indonesia telah menjadikan upaya kesiapsiagaan bencana sebagai prioritas nasional yang diwujudkan dalam Rencana Aksi Nasional untuk Pengurangan Risiko Bencana (disaster risk reduction). Di tingkat global metode penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana, melalui WHO disepakati menjadi acuan internasional, ujar Menkes.

Ditambahkan, upaya kesiapsiagaan yang telah dilakukan diantaranya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan bertaraf nasional dan internasional dan bersifat manajemen maupun teknis medis.

Pelatihan nasional berupa pelatihan manajemen bencana, rencana kontijensi, emergency nursing, advanced trauma life support (ATLS), advanced cardiac life support (ACLS), manajemen obat dan persediaan farmasi, radio komunikasi, RS lapangan, evakuasi korban bencana di perairan dan operasionalisasi perahu karet serta pelatihan RHA (rapid health assessment). Sedangkan pelatihan internasional yang telah dilakukan yaitu international training consortium on disaster risk reduction (konsorsium internasional pelatihan pengurangan risiko bencana) di Makassar, Yogyakarta dan Surabaya. Total petugas yang telah dilatih selama kurun waktu tahun 2006 – 2008 sebanyak 4.513 orang. Tahun 2009 ini, masih terus dilakukan pelatihan-pelatihan bagi petugas, bahkan pelatihan bencana bagi para wartawan, tambah Menkes.

Dasipena ke-1 diresmikan di Makassar, Sulawesi Selatan tanggal 5 Mei 2008 dengan melatih 1.600 orang, Dasipena ke-2 di Semarang, Jawa Tengah tanggal 31 Juli 2008 dengan melatih 4.500 orang, Dasipena ke-3 di Surabaya, Jawa Timur tanggal 19 Agustus 2008 dengan melatih 5.000 orang, Dasipena ke-4 di Denpasar, Bali tanggal 14 Oktober 2008 dengan melatih 1500 orang, Dasipena ke-5 di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 20 Desember 2008 dengan melatih 2.000 orang dan Dasipena ke-6 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tanggal 31 Desember 2008 dengan melatih 2.000 orang.

Saat ini tercatat 4 wilayah lagi yang sudah siap dikukuhkan yaitu Manado, Sulawesi Utara, Palembang, Sumatera Selatan, Medan, Sumatera Utara dan Banda Aceh, NAD. Total petugas Dasipena mencapai 28.300 orang.

Selain itu, bangsa ini juga sedang menghadapi pandemi influenza A H1N1. Kasus positif influenza A H1N1 secara kumulatif sampai tanggal 2 Agustus 2009 sebanyak 561 kasus, dengan rincian laki-laki 308 orang, perempuan 253 orang dan meninggal 1 orang. Kasus influenza A H1N1 ini ditemukan di 18 provinsi yaitu: DKI Jakarta, Bali, Banten, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah dan Lampung, tambah Menkes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes. go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Masyarakat Tidak Perlu Ragu Melakukan Imunisasi

Imunisasi merupakan upaya medis untuk mencegah terjadinya suatu penyakit. Dalam agama Islam, imunisasi sah menurut hukum (absah secara syar’i) sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk melakukan imunisasi sepanjang materi atau bahan yang digunakan tidak berupa unsur yang haram. Demikian disampaikan Dr. H.M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Seminar yang diprakarsai Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Senin, 3 Agustus 2009, di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.


Program imunisasi terbukti menurunkan angka kesakitan dan kematian karena infeksi pada bayi secara drastis. Namun, sering ada pendapat salah tentang imunisasi yang menimbulkan keraguan dan penundaan, bahkan penolakan. ”Padahal penundaan atau penolakan imunisasi akan membawa risiko terkena infeksi bagi anak bersangkutan”, kata dr. Hartono Gunardi, Sp. A (K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dengan makin banyak bayi atau anak yang mendapat imunisasi, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi makin jarang terlihat. Di lain pihak, rasa ketakutan kepada efek samping vaksinasi yang berlebihan menjadi lebih dominan dibandingkan ketakutan terhadap penyakitnya, kata Prof. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp. A (K), Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

”Selama ini banyak persepsi yang salah tentang imunisasi dimata masyarakat. Mulai dari imunisasi menyebabkan anak menjadi demam, imunisasi itu berbahaya, bisa menyebabkan kesakitan dan bahkan kematian. Pendapat itu tidak benar sama sekali. Vaksin yang diberikan dalam imunisasi merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek samping vaksin bersifat ringan (minor) dan sementara seperti pegal di lengan atau demam ringan. Berdasarkan hasil penelitian Institute of Medicine tahun 1994 menyatakan bahwa risiko kematian akibat imunisasi adalah amat rendah”, ujar dr. Hartono.

” Pendapat yang salah tentang imunisasi perlu diketahui dan diantisipasi agar pemberian vaksin terhadap anak tetap berjalan dengan baik”, tambah dr. Hartono.

Anak harus mendapat imunisasi karena dua alasan, yaitu anak harus dilindungi dan imunisasi dapat melindungi anak-anak di sekitarnya yang tidak mendapatkan imunisasi apabila cakupan imunisasi tinggi, kata dr. Hartono.

Anggapan bahwa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sudah tidak ada di negara kita sehingga tidak perlu imunisasi, juga tidak benar. ” Angka kejadian sejumlah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi telah menurun drastis di Indonesia. Namun, pelancong (wisatawan) dapat membawa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti polio, campak, hepatitis B dan lain-lain serta menimbulkan wabah di Indonesia, tambah dr. Hartono.

Cegah Infeksi.

Apabila anak mendapat vaksinasi, 80-95 persen akan terhindar dari infeksi berat dan ganas. Makin banyak bayi atau anak mendapatkan imunisasi, kian berkurang penularan penyakit sehingga menurunkan angka kesakitan dan kematian, ujar Prof. Sri Rezeki.

Program imunisasi di Indonesia diselenggarakan sejak tahun 1956, yaitu dengan pemberian imunisasi cacar. Selanjutnya pada tahun 1973 dimulai pemberian imunisasi BCG, diikuti pemberian imunisasi TT pada ibu hamil pada tahun 1974 dan imunisasi DPT untuk bayi pada tahun 1976. Mulai tahun 1977, upaya imunisasi diperluas sesuai dengan anjuran WHO sebagai upaya global dalam rangka pencegahan penularan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B.

Imunisasi rutin diberikan kepada bayi 0-11 bulan, anak sekolah, dan ibu hamil serta calon pengantin wanita. Pelayanan imunisasi rutin dapat dilaksanakan di beberapa tempat, antara lain Puskesmas/Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit, klinik KIA, dan praktek dokter/bidan swasta.

Penyelenggaraan program imunisasi di Indonesia mengacu pada kesepakatan internasional The Millennium Development Goals (MDGs) pada tahun 2003 yang meliputi target ke-4 tentang penurunan angka kematian anak, dengan salah satu indikatornya adalah mereduksi kematian akibat campak pada anak usia <5 tahun menjadi dua pertiga pada tahun 2015 dibanding kondisi tahun 1990.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416 – 19 dan 021-52921669, atau melalui alamat e-mail: puskom.depkes@gmail.com dan puskom.publik@yahoo.co.id.

Sumber: Depkes
Baca Selengkapnya...

Sudah Ada 662 Kasus Positif Influenza A-H1N1 di Indonesia

05 August 2009

JAKARTA, KOMPAS.com - Sampai tanggal 5 Agustus 2009, total kasus positif influenza A-H1N1 mencapai 662 orang setelah ada tambahan 43 orang pasien: 20 laki-laki dan 23 perempuan. Selain itu, dua orang meninggal dunia pada tanggal 2 dan 3 Agustus 2009. Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Depkes Agus Purwadianto di Jakarta, Rabu (5/8) menyatakan, tambahan 43 orang tersebut berasal dari 9 provinsi: Banten (2 kasus), DKI Jakarta (17 kasus), Jawa Barat (3 kasus), Jawa Timur (1 k asus), Kalimantan Selatan (11 kasus), Kalimantan Timur (1 Kasus), Riau (6 kasus), Sulawesi Selatan (1 kasus) dan Sumatera Utara (1 kasus).

Ke 43 orang tersebut adalah Warga Negara Indonesia: 36 orang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri, 3 orang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri (Malaysia, Thailand dan Singapura) dan 4 kasus tidak jelas riwayat perjalanannya.

Sementara itu,Tjandra Yoga Aditama, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes menambahkan, sampai tanggal 5 Agustus 2009 sudah 20 provinsi ditemukan kasus positif influenza A H1N1, yaitu yaitu: Bali, Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepri, Sulawesai Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, Lampung, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Barat.

Dengan demikian, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 di Indonesia, adalah 662 orang terdiri dari 354 laki-laki dan 298 perempuan. Pasien meninggal dunia dua orang. Pasien pertama, laki-laki usia 75 tahun, WNA meninggal pada 2 Agustus 2009. Masuk RS dengan keluhan batuk dan demam, dalam perawatan pasien bertambah sesak dan meninggal dunia dengan pneumonia berat.

Pasien kedua, anak perempuan usia 2 tahun, WNI meninggal pada 3 Agustus 2009. "Pasien ini memiliki berbagai penyakit dasar sebagai predisposisi. Ketika masuk RS dengan keluhan sesak dan demam kemudian memburuk dengan cepat dan akhirnya meninggal dunia dengan pneumonia yang luas," papar Tjandra Yoga.

Ditambahkan, sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO 11 Juni 2009, di seluruh dunia sampai 27 Juli 2009 tercatat 134.503 orang positif terkena influenza A H1N1. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat.

Sumber berita: Kompas.com (5 Agustus 2009)
Baca Selengkapnya...

Menkes: Anak Sekolah Alami Gizi Buruk Kronis

Jakarta, (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari mengungkapkan, banyak anak sekolah di Indonesia Timur menderita gizi buruk kronis. "Kami memiliki data akurat banyak anak-anak sekolah di Indonesia Timur mengalami gizi buruk kronis. Kondisi ini perlu perhatian khusus dari pihak swasta," katanya pada peluncuran program Peluk Asa (perlindungan keluarga dengan kasih sayang) Telkomsel yang berlangsung di Kantor Departemen Kesehatan, Jakarta, Rabu.

Ia meminta peran swasta, khususnya Telkomsel untuk mengarahkan Corporate Social Responsibility (CSR) pada penanggulangan gizi buruk bagi anak-anal sekolah di Indonesia Timur tersebut.

"Kalau boleh, saya menyarankan agar CSR Telkomsel diarahkan pada pembagian susu kepada anak-anak sekolah di Indonesia Timur. Minimal, dua kali seminggu untuk menanggulangi kasus gizi buruk tersebut," katanya.(*)

SUmber: ANTARA
Baca Selengkapnya...

 
 
 
 
Copyright © MF Nurhuda Y